Bahas Inovasi Kesehatan Berbasis Riset, Mendiktisaintek Terima Kunjungan IMI-RAHO Club


JAKARTA – Pengembangan inovasi kesehatan berbasis penelitian menjadi salah satu fokus pembahasan dalam pertemuan yang antara jajaran IMI-RAHO Club dengan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Brian Yuliarto, S.T., M.Eng., Ph.D. , di Jakarta, Senin, 15 Juni 2026.

Pertemuan tersebut menghadirkan sejumlah tokoh dari kalangan akademisi, peneliti, dan penggerak inovasi kesehatan nasional. Diskusi berlangsung dalam suasana konstruktif dengan menyoroti peluang sinergi antara dunia pendidikan tinggi, riset, dan sektor pelayanan kesehatan.


Dari pihak IMI-RAHO Club, hadir Prasetio dan Tung Hendra sebagai pimpinan Raho Premier & Business Development bersama Sekretaris Inovasi Molekuler Indonesia (IMI), Ir. Tintrim Rahayu, M.Si.  Turut hadir pendiri dan ketua Raho Club Kan Eddy didampingi istri serta Kapten Sar selaku penggiat Gerakan Beli Indonesia dan  Network Development RAHO CLUB. 

Kehadiran sejumlah ilmuwan turut memberikan warna tersendiri dalam pertemuan itu. Di antaranya akademisi senior Prof. Dr. Sutiman Bambang Sumitro, SU., D.Sc & Profesor Dr Ahmad Sabaruddin  (pendiri & peneliti IMI) serta dr Aditya Tri Hernowo, Ph.D, menjabat kepala peneliti yang selama ini aktif dalam kegiatan riset dan pengembangan teknologi kesehatan

Salah satu topik yang mengemuka dalam diskusi adalah pentingnya memperkuat hilirisasi hasil riset agar dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Para peserta menilai Indonesia memiliki potensi besar dalam menghasilkan inovasi kesehatan yang lahir dari penelitian anak bangsa dan dikembangkan melalui kolaborasi lintas sektor.

Dalam kesempatan tersebut, berbagai gagasan mengenai pemanfaatan teknologi kesehatan modern dan penguatan ekosistem penelitian nasional turut menjadi perhatian. Pendekatan yang menghubungkan penelitian, pendidikan, dan kebutuhan layanan kesehatan dinilai penting untuk mempercepat lahirnya solusi yang relevan bagi masyarakat.
Menurut para peserta, dukungan kebijakan yang mendorong kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan komunitas riset akan menjadi faktor penting dalam membangun kemandirian teknologi kesehatan nasional.

Kan Eddy selaku Ketua Raho Club menyampaikan bahwa komunitas yang dipimpinnya berkomitmen untuk terus mendukung pengembangan inovasi berbasis sains melalui kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk kalangan akademik dan institusi pemerintah. Saat ini sudah lebih dari 25 ribu anggota Raho Club sejak peetama didirikan .

Pertemuan tersebut diharapkan menjadi langkah awal bagi terbentuknya kolaborasi yang lebih luas dalam pengembangan riset kesehatan dan bioteknologi. Dengan keterlibatan berbagai pemangku kepentingan, inovasi yang lahir dari laboratorium diharapkan dapat berkembang menjadi solusi yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat Indonesia.

Posting Komentar

0 Komentar